
KONTROVERSI VUVUZELA
Para pemain, pelatih, dan komentator televisi serta radio menganggap vuvuzela tak layak ada di Piala Dunia.
Vuvuzela berbentuk seperti terompet biasa berbahan plastik, panjang setengah hingga satu meter, bercorak warna-warni dan gampang ditenteng ke mana-mana. Tapi jangan anggap terompet ini bunyinya biasa-biasa saja. Suaranya sangat keras dan bisa membuat jantung bergetar.
Tidak seperti terompet biasa, vuvuzela tidak ditiup dengan mengatupkan bibir pada bagian ujungnya. Akan tetapi, bibir ditempelkan pada bagian ujungnya dan digetarkan saat meniupnya. Hasilnya, bunyi yang memekakkan telinga.
Bisa dibayangkan jika suara itu dibunyikan puluhan ribu orang di stadion. Suara yang sangat memekakkan telinga akan membuat kepala pening jika tak tahan mendengarnya. Irama yang dihasilkan tidak beraturan, tanpa ritme, dan berlangsung konstan sejak penonton memadati stadion hingga mereka pulang.
Kendati menuai protes, para suporter Afsel telah siap melawannya, karena menurut mereka, pelarangan vuvuzela adalah bentuk neokolonialisme. Vuvuzela sudah menjadi bagian dari budaya Afsel. Jika muncul pelarangan, itu sama saja dengan melakukan penjajahan di negeri Afsel.
Suara vuvuzela menurut ahli suara dari Prancis, Mireille Tardy, jika ditiup secara maksimal akan menyamai suara jet yang sedang tinggal landas. Jika ditiup oleh banyak orang, maka suaranya akan seperti suara rombongan lebah dengan volume yang luar biasa. Gendang telinga bisa bergetar dan serasa mau pecah.
Sebuah lembaga yang fokus terhadap kesehatan pendengaran, Hear the World, telah melakukan tes kekerasan suara terhadap sejumlah instrumen yang digunakan para penonton di dalam stadion. Hasilnya memang menyebutkan vuvuzela punya tingkat decibels yang paling tinggi (mencapai 127 decibels). Sementara kekuatan gendang telinga manusia hanya dibawah 100 decibels.
Namun, vuvuzela sudah menjadi budaya Afsel, apalagi warga Afsel jika soal budaya sangat sensitif. Sebuag organisasi massa di Afsel pernah akan memboikot acara Piala Dunia 2010 jika tak mengedepankan adat dan budaya Afsel.


0 komentar:
Posting Komentar